Jumat, 15 Juni 2018

Nuri dan Setangkai Mawar


NURI DAN SETANGKAI MAWAR
Karya : Ahmad Yamani

PANGGUNG MENGGAMBARKAN SEBUAH RUMAH. TERDAPAT KURSI DI TERAS DAN BUNGA MAWAR DI SEKITARAN RUMAH.  TERLIHAT SEORANG PEREMPUAN DENGAN BAJU TERBUKA YANG DITUTUPNYA DENGAN SEHELAI KAIN SEDANG DUDUK MENATAP BUNGA-BUNGA MAWAR . HAMPIR HABIS ROKOK YANG DI HISAPNYA.WAJAHNYA TEBAL DENGAN MAKE UP YANG SUDAH LUNTUR. GINCU MERAHNYA SUDAH TERKIKIS SEPERTI PUAS DIKECUP SESEORANG. MATANYA SEPERTI MENERAWANG JAUH. TERDENGAR SUARA LAKI-LAKI DARI DALAM RUMAH. LALU KELUAR TERLIHAT BERSIAP-SIAP UNTUK PERGI.

ADEGAN 1
Laki-Laki             : Nuriiiii (dari dalam rumah) Oh sayang di sini kau rupanya…
Nuri                     : Keraskan saja lagi suaramu itu, kalau perlu kau teriak kencang-kencang biar semua orang kampung bangun!!!
Laki-Laki             : (ingin berteriak)
Nuri                     : Coba saja!!! akan kulemparkan puntung ini ke mukamu!!!
Laki-Laki             : (Tertawa) Ayo lemparkan saja… lempar… heh hahahaa….
                               Ngomong-ngomong servisanmu malam tadi sungguh luar biasa… kau memang hebat dalam hal memuaskan lelaki… sangat berpengalaman hahahahaa
Nuri                     : Tugasku sudah selesai!! Sebaiknya kau cepat pulang!!
Laki-Laki             : Apa kau melakukannya tadi dengan cinta??
Nuri                     : heh cinta?? Goblok!!!
Laki-Laki             : Jangan-jangan kau memang mencintaiku??
Nuri                     : Idiihh…
Laki-Laki             : Ouuuhhhh ayolah… jangan galak begitu… Kau harus memuaskan pelangganmu ini…
Nuri                     : Kau sudah puas.. jadi masalah selesai…
Laki-Laki             : Hahaahaa santai lah sedikit manis… (mencolek) Kalau kau galak begini nanti kau tidak laku lagi..
Nuri                     : Aku tidak peduli!!! Perjanjiannya aku melayanimu hanya sampai burungmu itu ngecrot… sisanya di luar dari pelayanan!!!
Laki-Laki             : Hahahaaa.. kau memang yang paling TOP!!
Nuri                     : Sudah mau terang, kau sebaiknya pergi sekarang!!! Aku mau istirahat!!
Laki-Laki             : Baiklah-baiklaah…. Aku pergi.. dadaaahh hooooneeeeyyy… (beranjak pergi) eits… Hati-hati dadamu itu nanti jadi mengeras kalau keseringan marah-marah hahhaaaa
Nuri                     : Goblok!!! Punya burung kecil saja belagu!!!

KEMBALI DUDUK DAN MENYALAKAN ROKOK, KEMBALI MATANYA MENERAWANG SETELAH ITU MENATAP BUNGA MAWAR DI DEKATNYA. LALU MEMOTONGNYA.
BI IJAH MEMASUKI PANGGUNG.

Nuri                     : Kenapa lagi kau kembali?? (kesal)
Bi Ijah                 : Ini bi ijah nur…
Nuri                     : Eh bi ijah… ku kira laki-laki tadi…
Bi Ijah                 : Pelangganmu lagi?
Nuri                     : Biaasaaa…
Bi Ijah                 : Aduuhhh.. Nuriii..Nuriiiii…. jangan terlalu sering bermain dengan kekasih-kekasihmu itu….
Nuri                     : Pelanggan bi… cuman pe…
Bi Ijah                 : Yaaa… apalah itu..
                              ini sayur bening dan ikan asin, tadi bibi masak lebih (meletakkan rantang)
Nuri                     : Bibi tidak perlu repot-repot mengantarkan makanan setiap hari…
Bi Ijah                 : Orang tua ini sudah pikun… seperti rasanya masih memasak untuk suami… hahhaaaa
Nuri                     : Iya bi…. Tapi tidak setiap hari juga kan?
Bi Ijah                 : Tidak apa-apa nur…. Bibi malah senang … serasa masih punya keluarga….
                              Eiihhh….. cepat ambil piringnya nur! Nanti keburu dingin..
Nuri                     : (masuk ke dalam rumah)
Bi Ijah                 : Sekalian ambilkan bibi air putih yaa Nur…
Nuri                     : (menyiapkan makan)
Bi Ijah                 : Kau kelihatannya tidak bersemangat hari ini?
Nuri                     : Biasa saja bi..
Bi Ijah                 : Bibi sudah hidup di dunia ini lama…. Jadi paham betul mana muka orang yang sedang bahagia, mana muka yang habis ketiban masalah, bahkan bibi pernah melihat muka orang jadi jelek habis melihat hantu hahahaaa
                              Ya sudah… kalau kau tak mau cerita ya tidak apa-apa (tersenyum)
Nuri                     : Akhir-akhir ini aku sering teringat masa lalu saja bi…
Bi Ijah                 : Tentang laki-laki yang kau ceritakan itu?
Nuri                     : (terdiam)
Bi Ijah                 : Banyaaaakkk sekali orang yang ingin menghapus kenangan buruk masa lalunya…. Merasa dirinya seolah yang paling kasihan, paling tidak bahagia karena masa lalunya tak seberuntung orang lain… tapi kau harus ingat Nur, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa alasan…
Nuri                     :  Alasan untuk menjadikan saya seorang pelacur..
Bi Ijah                 : (tersenyum) Kau memiliki nama yang bagus…. Ibumu pasti mempunyai harapan dan doa lewat nama itu… Aku suka menyebutkannya… dengan lengkap maupun disingkat…
                               Nuri seekor burung yang indah… mempesona bagi siapa saja yang melihatnya… memiliki kepedulian yang tinggi…. Sedang Nur adalah cahaya…. Ahhh.. alangkah baiknya kau memiliki nama.
Nuri                     :  Jauh sekali dengan kehidupanku yang gelap. (tertunduk)
Bi Ijah                 :  Kau ini cantik Nur… masih jauh untuk di bilang tua. Kau pasti mudah untuk cari kerja?
Nuri                     :  Sudah pernah bi. yaaaahhh… tapi yang jati dirinya melekat jiwa seorang pelacur tetap saja akan diperlakukan sebagai seorang pelacur!
Bi Ijah                 :  Kau kan bisa menolaknya?
Nuri                     :  (terdiam lagi)
Bi Ijah                 :  Ahh.. sudahlah. Lagipula itu hanya omongan dari orang tua yang hanya lulus sekolah dasar saja. itupun kalau ingatan bibi benar. Atau jangan-jangan bibi tidak pernah lulus sekolah… (tertawa)  Kok bibi malah pusing mikirin sekolah…aduuuhhhh lali aku ini… (menepuk-nepuk kepala)
Nuri                     :  Bibi bisa saja…. (tersenyum)
Bi Ijah                 :  Bibi terlalu banyak bicara yaa…. Hahaaa mungkin bibi cocok ya jadi seperti orang-orang pintar di tv-tv biasanya...
Nuri                     :  Hahahaa bisa saja bi… tapi bibi mugkin harus diberi sedikit make up di sini… di sini… di sini… (meraba-raba wajah bibi)
Bi Ijah                 :  Huusssyyyy…. (mengelak)
Nuri                     : Hahahahaa (memeluk)
                              Nanti kalau aku sudah membereskan urusanku.. aku pasti akan berhenti bi…
Bi Ijah                 : Urusan??
Nuri                     : Aku ngantuukkk bi…
Ni Ijah                 :  Astaga…. Orang tua ini hampir lupa waktu kalau bicara…
                              Ya sudah… bibi pulang dulu yaa...

BIBI IJAH MENINGGALKAN PANGGUNG. NURI BERSIAP MEMASUKI RUMAH. LALU ADA SEGEROBOL PEMUDA YANG PERGI BEKERJA. DAN MENGGODA NURI.

Pemuda               :  (bersiul)
Nuri                     :  Apa? 300 ribu kalau mau… kalau tidak punya uang  pergi saja…
Pemuda               :  Ah… Mahal sekali!!
Nuri                     :  Burung kecil aja belagu!!
Pemuda               :  Yeeee marah… (beranjak pergi)
Ujang                   :  (masih memandangi Nuri)
Nuri                     :  Apa??
Ujang                   :  Ehhh… ehhh.. (tersadar)
Pemuda               :  Bujang!!! Ayoo.. malah bengong di sini… mau kau di lempari kondom??

PEMUDA MENINGGALKAN PANGGUNG.

BLACK OUT.

ADEGAN 2
SUASANA MALAM HARI. NURI MENUJU RUMAHNYA DENGAN DIBOPONG SEORANG LAKI-LAKI. SEPERTI HABIS MABUK DI SUATU TEMPAT. LALU DUDUK DI KURSI TERAS RUMAHNYA. BICARANYA NGELANTUR SAMBIL MEMOTONG SETANGKAI MAWAR. SAMPAI-SAMPAI PERKATAANNYA MENYINGGUNG LAKI-LAKI YANG MEMBAWANYA.

Nuri                     :  Aku terbang seperti burung Nuri yang indah melewati sungai-sungai aliran ludah para lelaki bernafsu… mencipratkan butiran-butiran air yang kukelepakkan di sela-sela dadaku dengan aroma busuk bau muntahan ludah asam perih menusuk-nusuk hatiku….
Laki-Laki             :  Berat juga kau ini!!!
Nuri                     :  oohhh ibu… aku lah si burung Nurimu yang terbang mengitari mawar-mawar merah…. yang semakin memerah… semakin memerah… dan berubah menjadi api yang melahap tubuh kecil tak berdaya… mendekapku dengan erat hingga aku menjadi mual ingin memuntahkan semua isi tubuhku yang kotor ini… (muntah di baju lelaki) Hahahahaaaa...
Laki-Laki             :  (kesal) Dasar lacur!!!!
Nuri                     :  Hah??? …. Apa kau bilang? Lacur? Aku lacur?? (menampar lemah) Kau laki-laki goblok!! Lebih bajingan dari seorang pelacur… Hahahaaa
Laki-Laki             :  Dasar tidak tau terima kasih… masih untung kau ku gendong ke sini… Jika tidak, tidur saja kau di kamar kumuh itu… Biar esok nya kau jadi tontonan ramai orang dengan tubuh yang telanjang dan bau Hahahaahaa….
Nuri                     :  Heyy…. Heyyy…. Siapa yang tidak tahu terima kasih hah??? Kau berhutang jasa padaku… aku ajarkan kau bagaimana caranya memuaskan seorang wanita!!! Hahahaaa ooouuuhhhhh… Kau ingat?? Betapa lugunya kau saat itu… sangat kaku… kau bilang “eeehhh… eeehhh… aku takut. Aku tak pernah bisa memuaskan wanita.” (terbahak) ouuhh yyaaa… satu lagi. Burungmu begitu mungil hahahahaaa… kau harus banyak melatihnya.. ya kau harus sering melatihnya… (terbahak)
Laki-laki              :  (merah padam) Berani kau mengolok-ngolok ku…. Kau sudah berjanji merahasiakannya!!!
Nuri                     :  Hah??? Apa aku tidak salah dengar??? Kau percaya dengan seorang yang kau bilang pelacur??? Hahahahaaa
Laki-Laki             :  (menahan marah)
Nuri                     :  Ouuuuhhhh iyaa iyaaa… aku paham sekarang!!! Pantas saja kau tidak bisa bertahan lama dengan kekasih-kekasihmu itu…. Kau tau?? Hah?? Itu karena burungmu kecil dan lemah… Hahahahaaa
Laki-Laki             : Dasar pelacur bangsaaatt!!! (menampar)
Nuri                     : (berusaha bangkit) Kau laki-laki baj…. (muntah)

LAKI-LAKI MENINGGALKAN PANGGUNG. TAK LAMA KEMUDIAN UJANG DATANG.

Ujang                   :  Astagaa…. Nurii??  (membantunya duduk) Kau mabuk?
Nuri                     : Apa masalah kau hah??
Ujang                   :  Wajahmu kenapa? Memar begini???
Nuri                     :  Kau tak usah ikut campur urusanku!!!
Ujang                   :  Maafkan aku… aku hanya ingin menolongmu…
Nuri                     :  (memandang ujang) ouuhhh kau ujang…. Kalau kau butuh servisanku.. aku sedang tidak mood…. Kau cari yang lain saja!!
Ujang                   :  Maksudmu??
Nuri                     :  Yaaa?? Apalagi yang dibutuhkan seorang laki-laki datang ke rumah ini, selain minta servisan!!
Ujang                   :  Aku tidak bermaksud….
Nuri                     :  Hahahaaa klasik!!! Semua laki-laki selalu mempunyai banyak cara untuk melampiaskan nafsunya!!
Ujang                   :  Aku benar-benar tidak bermaksud untuk….
Nuri                     :  Baiklah… begini saja… 400 ribu untuk membuatku memaksakan diri untuk menuruti nafsumu!!! Kalau kau tak sanggup sebaiknya kau pulang.. lampiaskan pada sabun mandimu… Hahahaaa
Ujang                   :  Astagaa.. Nuri!! aku tidak ingin menyewamu!!! Kau jangan salah paham!!
Nuri                     :  Lalu… kenapa kau kemari??? Ini juga bukan waktunya bayar kontrakan kan?
Ujang                   :  Aku hanya melihat kau tergeletak di teras… tak ada niatan buruk.. hanya ingin membantumu!!!
Nuri                     :  (terdiam memandangi mawar) terima kasih….
Ujang                   :  Kau tak apa-apa sekarang??
Nuri                     :  Aku tidak apa-apa!! (mendekati setangkai mawar lalu memotongnya)
Ujang                   :  Kuperhatikan kau selalu memotong mawarmu setiap hari??
Nuri                     :  Aku sudah berterima kasih… Mengapa kau masih di sini??? Lagipula apa urusanmu denganku??
Ujang                   :  Mengapa kau begitu membenciku Nur?
Nuri                     :  Bukan hanya kau!! Aku membenci semua lelaki!!!
Ujang                   :  Kenapa??
Nuri                     :  Sudah ku bilang bukan urusan kau!!!
Ujang                   :  Apa salah aku peduli denganmu Nur?
Nuri                     :  Peduli???
Ujang                   :  Ya…
Nuri                     :  Kau lebih baik berikan pedulimu itu dengan wanita lain!!
Ujang                   :  Aku tak bisa!!
Nuri                     :  Aku tidak suka dengan kepedulianmu!!
Ujang                   :  Paling tidak izinkan aku mengenalmu Nur!
Nuri                     :  Kau ingin mengenalku?? Aku ini seorang pelacur!!
Ujang                   :  Apa salah nya jika kau seorang pelacur?
Nuri                     :  Kau tidak akan senang denganku! (melemah)
Ujang                   :  Aku tidak masalah!

NURI TERDIAM SEJENAK. FIKIRANNYA SEPERTI TERINGAT SESUATU. MATA NYA MENERAWANG DAN MENIMBANG-NIMBANG PERASAANNYA. LALU MENGAMBIL BUNGA MAWAR YANG TELAH DI POTONGNYA. SUASANA LENGANG SEJENAK.

Ujang                   :  Mengapa kau selalu memotong mawar-mawar itu Nur?
Nuri                     :  Aku membencinya!!
Ujang                   :  Kalau kau membencinya, lalu mengapa kau menanamnya kembali dan merawatnya hanya untuk kau potong setelah bunganya tumbuh?
Nuri                     :  Agar aku tak pernah lupa untuk membencinya!!
Ujang                   :  Tapi mengapa kau membencinya?
Nuri                     :  (terdiam sejenak) Sudah malam jang… sebaiknya kau cepat pulang!! Ibumu pasti akan marah jika tahu kau di sini…

BI IJAH MEMASUKI PANGGUNG. DENGAN SEORANG ANAK PEREMPUAN. NAMANYA TINI.

Bi Ijah                 :  Nurii… Nuriiiii…..
Nuri                     :  Ada apa Bi Ijah??
Bi Ijah                 :  Anak ini mencarimu?? Dia memaksaku mengantarkannya ke rumahmu!! Hahaha lucu sekali…. Aku baru tahu kalau kau mempunyai….
Nuri                     :  Tini?? Kenapa kau keluar malam-malam begini???
Tini                      :  Tini mau cari rumah ibu...
Ujang                   :  Ibu??
Bi Ijah                 :  Ujang??? Ngapain kau di sini hah???
Nuri                     :  Tidak bi.. dia bukan… (tersendat)
Ujang                   :  Aku tadi cuma mau menolong Nuri tergeletak di teras rumah saja bi…
Tini                      :  Ibu sakit?? Sakit apa bu???
Nuri                     :  Ibu tidak apa-apa Tini….
Bi Ijah                 :  Eh… Ujang!! Kau sebaik nya cepat pulang!! Ibumu tadi mencari kau!!
                               Anak ini sebaiknya istirahat Nur… pasti kelelahan mencari-cari rumahmu!
Nuri                     :  Iyaa bi…
Bi Ijah                 : Ayoo jang kita pulang!

BI IJAH DAN UJANG MENINGGALKAN PANGGUNG. NAMUN, DI PERJALANAN PULANG UJANG MEMBAWA TANDA TANYA BESAR TENTANG TINI.

BLACK OUT

ADEGAN 3
PANGGUNG MENGGAMBARKAN SUASANA PAGI HARI. TERLIHAT NURI SEDANG MENYIRAMI BUNGA MAWAR. WAJAHNYA TERLIHAT SEGAR. TIBA-TIBA UJANG DATANG MENGHAMPIRI. HANYA DIAM MENIMBANG-NIMBANG SESUATU YANG HARUS DILAKUKAN.

Nuri                     :  Diam saja kau Ujang?
Ujang                   :  Ehh… kau tidak marah aku datang?
Nuri                     :  Percuma…
Ujang                   :  ehh… (sambil menggaruk kepalanya, sesekali memandang ke dalam rumah)
Nuri                     :  Kau tidak bekerja?
Ujang                   :  Hari ini aku kena jadwal libur..
Nuri                     :  (fokus menyiram mawar)
Ujang                   :  (sekali lagi melirik ke dalam rumah)
Nuri                     :  Dari pada kau diam lebih baik kau bantu aku menyiram mawar-mawar ini..
Ujang                   :  Ehhh… boleh??
Nuri                     :  Menurut kau saja bagaimana??
Ujang                   :  Ehhh…. Yesss (berbisik)
Nuri                     :  Kau kenapa?
Ujang                   :  Ehhh…. Tidak apa-apa (menggaruk kepala)
Nuri                     :  ehhh.. ohh.. ehh.. ohh.. mulu kau ini jang…
                               Kalau kau takut denganku, lebih baik kau tidak usah ke sini saja..
Ujang                   :  Ehhh…. Tidak-tidak!! Maaf.. (menyiram mawar sesekali melirik ke dalam rumah). Mana Tini Nur?
Nuri                     :  Dia sudah pulang… Tadi bi Ijah yang ngantar… dia ngotot mau mengantar nya pulang.. katanya mau sekalian ke pasar..
Ujang                   :  ouuuhhhh…. (ragu-ragu) Tini itu anak….
Nuri                     :  Aku mau ke dalam sebentar Jang…  (melangkah masuk)
Ujang                   :  Ehh iyaaa…
                               Dasar bodoh kau ini Ujang!!! (menepuk-nepuk kepala) hampir saja dia marah!!

TIBA-TIBA ADA SEORANG LAKI-LAKI BERPAKAIAN RAPI DATANG DAN BERTANYA TENTANG NURI.

Joni                      :  Permisi… saya sedang mencari seseorang yang bernama Nuri? Apa mas ini tau?
Ujang                   : Iya benar ini rumahnya Nuri… (bingung)
Joni                      :  Mas ini siapa nya Nuri?
Ujang                   :  Saya Ujang…. Temannya Nuri juga pemilik kontrakan ini…
Joni                      :  Kalau boleh tau Nuri nya di mana ya mas?
Ujang                   :  Nuri nya sedang ke dalam sebentar…
Joni                      :  Menyiapkan diri?? (tertawa) dia memang benar-benar berbakat…
Ujang                   :  Maksud kau?
Joni                      :  Yaaa… semua orang juga tau kan siapa dia (tertawa)
Ujang                   :  Jangan lancang kau!!!

NURI KELUAR RUMAH.

Nuri                     :  Joni!!! (terkejut)
Ujang                   :  (melepaskan cengkramannya)
Joni                      :  Haii Nuri… Selamat pagi. Sudah lama rasanya kita tidak bertemu… (tersenyum) Rindu rasanya abang denganmu… Tapi kau punya penjaga yang galak juga Hahahaaa…
Ujang                   :  Jangan kurang ajar kau!!!
Joni                      :  Santai sobaat....
Nuri                     :  (menarik lengan Joni menjauh dari Ujang)
Joni                      :  Sepertinya ini pembicaraan yang intim sobaat…
Ujang                   :  (hampir marah, tapi Nuri juga memintanya untuk tidak ikut)
Joni                      :  Waaww… kau punya bunga mawar yang banyak… Aku sungguh terharu.
Nuri                     :  Untuk apa lagi kau ke sini?? Belum puas kau hancurkan hidupku??
Joni                      :  Jangan marah dulu… aku hanya rindu kepada istriku…
Nuri                     :  Jangan sekali-kali kau sebut panggilan itu lagi…
Joni                      :  Okee.. okee baiklaah… Tapi kau harus maafkan aku dulu. Mantan istriku..
Nuri                     : Sudah ku bilang jangan kau panggil aku dengan sebutan itu!!!
Joni                      :  ohhyaaa… bagaimana kalau kuberi kau sesuatu.. (menyodorkan setangkai bunga mawar) yaaa… walaupun milikmu sudah banyak… tapi kalau mantan suami mu langsung yang memberinya pasti beda rasanya…
Nuri                     :  Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang juga!!
Joni                      :  Kau tak boleh mengusirku dengan kasar seperti itu!! Tidak sopan… Lagi pula kita belum sampai pada pembahasan intinya..
Nuri                     :  Ini rumahku!!! Aku berhak mengusirmu dari sini!!!
Joni                      :  Tidak… Kau tidak boleh mengusirku seperti itu!! Bagaimanapun juga aku yang membuatmu dapat hidup selayak ini!!
Nuri                     :  (takut) Aku tak ingin kehidupan seperti ini!!
Joni                      :  Ouuuhhhh… tidak ingin katamu?? kau ingat?? Kau sendiri yang memilihku??
                               Bukan salahku kau mencintai orang yang salah!!!
Nuri                     :  Kau Bajingaan!!!
Joni                      :  Aku bersikap baik padamu… aku bantu kau mencari jalan keluar atas kesulitanmu dengan penyakit ibumu itu!!
Nuri                     :  Sekali lagi kau menyebut ibuku… Akan ku…
Joni                      :  Akan apa hah??? Kau tak bisa melakukan apa-apa Nur!!
Nuri                     :  (terdiam)
Joni                      :  Lihat… kau masih sama seperti dahulu… penuh ketakutan…
Nuri                     :  Apa maumu??
Joni                      :  Mauku??
Nuri                     :  Ya katakan apa maumu??
Joni                      :  (berbisik) Polisi sedang mencarimu karena membunuh majikanmu dulu!!
Nuri                     :  Tidakk.. tidakk.. kau berbohong kan??
Joni                      : Kau hebat Nuri bisa berjalan sejauh ini setelah membunuh seseorang yang penting!! Aku juga hampir kewalahan mencarimu!!
Nuri                     :  Lalu, apa yang kau inginkan dariku??
Joni                      :  Aku ingin kau tutup mulut tentang kejadian masa lalu!! Tentang bisnis itu!!
                               Kau hanya akan bilang kalau kau membunuhnya karena masalah kekerasan biasa!!!
Nuri                     :  (tertawa kecil)
Joni                      :  Kenapa kau tertawa? Kau paham hah??
Nuri                     : (tertawa kecil) Kau tahu Joni?? Aku sudah siap jika aku harus menjadi tersangka pembunuhan itu!! Aku tidak takut untuk di penjara!! Tapi, kau tahu kenapa aku kabur terlalu jauh????
Joni                      :  (geram)
Nuri                     :  Yaaaa… Aku tak ingin hanya aku yang dinyatakan bersalah dalam kasus ini!!! Aku adalah korban dan kalian adalah pelakunya!! Jadi,, kita sama-sama akan di penjara!!
Joni                      :  Tidak jika kau tutup mulut!!
Nuri                     :  Aku tidak akan tutup mulut!!!
Joni                      :  Kau harus!!!
Nuri                     :  Memang kenapa kalau tidak hah??
                               Kau mau membunuku seperti dulu?? Bunuh saja aku!!!
Joni                      :  (tertawa) Sudah kubilang kau tidak punya pilihan lain Nur..
Nuri                     :  (terheran)
Joni                      :  Pilihannya hanya dua.. Kau mengikuti kehendak kami atau…
Nuri                     :  Atau apa hah?
Joni                      :  Atau Tini dalam bahaya!!!
Nuri                     :  (meludah) Bajingan kau Jon!!
Joni                      :  (menampar) Beraninya kau!!!
Nuri                     :  Tak puaskah kau renggut kehidupan ku? Harga diriku? Setiap hari aku menanggung beban kebencian!!!… Setiap hari aku tidak pernah bisa merasakan bahagia!!! Setiap hari aku mengalami mimpi buruk tentang masa lalu!!! Tadak puas kah kau hah? (menangis) Aku menyesal menjadi orang bodoh yang dengan lugunya percaya dengan rayuan-rayuanmu.. tentang janji-janjimu itu…teryata kau begitu tega menjualku menjadi seorang pelacurr… aku menyesal… Lalu setelah itu aku haru dihadapkan dengan kenyataan bahwa…  ibuku…. (tertahan) ..Ibuku meninggal….(terisak) Kau bajingaan!!!Kau benar-benar biadab!!! Tak punya hati!!! (mencengkram).
Joni                      :  Ahhhh (ingin menampar)

UJANG BURU-BURU MENGHALAU TANGAN JONI DAN MEMBUATNYA TERJATUH.

Ujang                   : Kau tidak apa-apa Nur??
Nuri                     :  (hanya diam lemah)
Ujang                   :  Heyy.. kau sebaiknya pergi dari sini!!! Atau akan kupanggilkan orang-orang kampung!!!
Joni                      :  Baiklah aku akan pergi!!
                               Kau benar-benar harus membuat keputusan Nur!! (pergi meninggalkan)
Nuri                     :  (hanya terdiam)
Ujang                   : (membantunya duduk ke kursi)
                               Kau kenapa Nur??
Nuri                     :  (menghancurkan bunga mawar didekatnya)
Ujang                   ;  Nuriii… Nurii… Sudah Nur…Sudaahhh…
Nuri                     :  (menangis) Pergii kau… Pergiii…. Biarkan aku sendiri… (mengamuk)
Ujang                   :  Tidakk Nur… Aku tidak akan meninggalkanmu begini!!

LALU BI IJAH DATANG. TERKEJUT MELIHAT KEADAAN NURI.

Bi Ijah                 :  Astaaagaaa…. Ada apa ini??
Nuri                     :  Pergiii…. Kubilang pergi…..
Bi Ijah                 :  Tenang Nur… Kau harus tenang…
Nuri                     :  Tinggalkan aku … Aku hanya akan membawa masalah bagi kalian…
Bi Ijah                 :  Sabaaarr Nuuurr… Sabaarrr…
Nuri                     :  Aku ini hanya seorang pembawa sial…. Aku tidak ingin kalian ikut dalam masalahku
Bi Ijah                 :  Tak ada masalah yang tidak bisa di hadapi Nurr… Kita akan hadapi bersama. Kau sudah ku anggap sebagai anakku sendiri… Bibi akan membantumu Nurr.
Nuri                     :  Aku ini pelacur bi… aku ini hinaa… aku juga seorang pembunuh!!! Aku pembunuh bi .. pembunuh… (melemah)
Bi Ijah                 :  (terdiam sejenak) Kalaupun kau seorang pelacur atau seorang pembunuh…. Kau tidak harus seperti ini Nurr… Menghinankan dirimu…
Nuri                     :  Apalagi kalau bukan hina bi??? Bibi tidak mengerti... Bibi bukan seorang pelacur sepertiku (mengeras)
Bi Ijah                 :  Aku bekas seorang pelacur Nur!! Aku juga seorang pelacur!!
Nuri                     :  (tersentak)
Bi Ijah                 :  Aku sama denganmu Nur… Makanya aku merasa dekat denganmu… Kau sudah kuanggap anakku sendiri (menangis)
                               Apakah seorang pelacur tak bisa memilih jalan lain Nur?? Sehingga kau begitu kalap seperti ini!!! Apakah pelacur tak bisa hidup dengan bahagia? (menangis)… Aku yang lebih mengerti kesakitan itu Nurr…(tertahan)
Nuri                     :  (terdiam sejenak) Maafkan aku Bi… maafkan aku sudah menyakitimu.. (memeluk)
Bi Ijah                 :  Kau bisa memilih jalanmu sendiri Nurr… Kau bisa…
Nuri                     :  Aku hanya tidak ingin menambah masalah kalian…Maafkan aku.. aku tak bermaksud menyakitimu.
Bi Ijah                 :  (terdiam)
Ujang                   :  Aku akan membantumu Nurr!!

TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA DARI KEJAUHAN DENGAN KALIMAT-KALIMAT YANG KASAR DAN MENYEBUTKAN NAMA UJANG.

Bu Risa                :  Ujaangg!!!! Dasar kau pelacur sialan! Jangan kau jerumuskan anakku ke dalam kehidupanmu!! Dasar lacur!!
Ujang                   :  Ibu….
Bu Risa                :  Pulang kau Ujang!! Kalau kau mau, ibu akan carikan kau wanita yang lebih baik dari si pelacur itu!!
Ujang                   :  Tapi, aku ingin bersama Nuri Bu!
Bu Risa                :  Bersama pelacur itu??? Apa kau sudah buta??
                               Kubilang pulang sekarang!!
Bi Ijah                 :  Sebaiknya kau pulang dulu Ujang (menenangkan)
Ujang                   :  (meninggalkan)
Bu Risa                :  Ehhh Nuriii!!! Jangan kau bawa Ujang dalam kehidupanmu! Sudah untung kau ku biarkan tinggal di sini..
Nuri                     :  Dia yang datang sendiri ke sini!!
Bu Risa                :  Itu pasti karena kau menghasutnya!!
Nuri                     :  (ingin membalas tapi ditahan Bi Ijah)
Bi Ijah                 :  Risa… Sudah!! Ujang hanya sekedar membantu Nuri…
Bu Risa                :  (menahan marah) Baiklah…
                               Eh Nuri kalau bukan karena bi Ijah. Sudah ku usir kau dari rumah ini!!
                               Tapi jika kau rusak anakku! Aku tidak segan-segan akan mengusirmu!!
Nuri                     :  (hanya diam di tahan Bi Ijah)
Bu Risa                :  Ahh… Sudahlah!! Aku pulang!
Bi Ijah                 :  Maafkan Risa Nur..
Nuri                     :  Iya bi… wajar saja di bersikap begitu kepadaku.
Bi Ijah                 :  Sebaiknya kau istirahat… Tenangkakan fikiranmu!
Nuri                     :  (mengangguk)

NURI DAN BI IJAH MEMASUKI RUMAH.

BLACK OUT.

ADEGAN 4
SUASANA SORE HARI. NURI DAN BI IJAH SEDANG BERBICARA DI DALAM RUMAH MENGENAI PERMASALAHAN YANG DI HADAPINYA. TIBA-TIBA UJANG DATANG BERLARI DAN MENGETOK-NGETOK RUMAH.  SEPERTI MEMBAWA KABAR BURUK.

Ujang                   :  Nuri… Nuriii… (mengetok pintu) Nuri….
Bi Ijah                 :  Ada apa jang??
Ujang                   :  Eh bibi.. gawat bi.. gawaatt.
Bi Ijah                 :  Gawat apanya?
Ujang                   :  Ada polisi bi.. ada polisi mencari Nuri…
Bi Ijah                 :  Nurr…
Nuri                     :  Aku tidak apa-apa bi… Aku sudah siap!!
Ujang                   :  Maksudnya??
Nuri                     :  Mau bagaimana lagi jang…
Ujang                   :  Kau benar-benar ingin….
Nuri                     : Aku sudah bicara sama bi Ijah… Aku harus menebus kesalahanku….
Ujang                   :  Tapi kau tidak bersalah Nur..
Bi Ijah                 :  Biarkan polisi-polisi itu yang menentukannya jang..
Ujang                   :  (Tertunduk)
Nuri                     :  Ujang… boleh aku meminta sesuatu padamu??
Ujang                   :  Apa itu Nur? Aku pasti membantumu..
Nuri                     :  Apa kau mau menjaga Tina dan teman-temannya??
Ujang                   :  Tina?? Tina anakmu??
Nuri                     :  Iya jang… Nanti bi Ijah akan mengantarkanmu ke sana…
Ujang                   :  Baiklah Nur…
Nuri                     :  Terima kasih Ujang… Kau memang orang yang tulus… Maafkan aku sudah bertindak kasar kepadamu…
Ujang                   :  Tidak apa-apa Nur…
Nuri                     :  Kau kenapa jang?
Ujang                   :  (terdiam sejenak) Aku… aku mencintaimu Nur..
Nuri                     :  (hanya diam)
Ujang                   :  Tapi.. tak apa kalau kau tidak menerimaku Nur.. Aku akan tetap menjaga anakmu..
Nuri                     :  Aku hanya seorang…
Ujang                   :  Aku tidak masalah dengan itu… Aku tau kau orang baik…
Nuri                     :  (memeluk ujang) terima kasih…

TERDENGAR SUARA MENUJU RUMAH NURI. BU RISA DAN POLISI DATANG INGIN MEMBAWA NURI.

Bu Risa                :  Ini rumahnya pa! Ujang kenapa kau di sini!! Pulang!!
Ujang                   :  Aku tidak mau!!
Bu Risa                :  Dasar kau pembunuh!! Tangkap saja pa!!
Nuri                     :  (menghadap polisi)
Polisi                    :  Selamat Sore.. Kami mendapat tugas untuk menahan saudari Nuri atas tindak pembunuhan!!
Nuri                     :  Saya sudah siap pa!! Saya juga akan memberikan keterangan sejelas-jelasnya atas tindak pembunuhan yang saya lakukan kepada saudagar kaya di Negeri Jiran itu!!
Polisi                    : Baiklah kalau begitu! (membergol)

TIBA-TIBA DATANG TINI. DI TANGANNYA MEMBAWA SEBUAH SURAT. KECERIAAN NAMPAK HILANG DI WAJAHNYA MELIHAT KEJADIAN DI DEPANNYA.

Tini                      :  Ibu??? Kenapa ibu di borgol??
Nuri                     : Boleh saya berbicara kepada anak saya pa??
Polisi                    :  Silahkan…
Tini                      :  Ibu… Tini dapat beasiswa untuk sekolah lebih tinggi bu.. Tini sudah jadi anak yang pintar seperti ibu inginkan….
                               “Burung Nuri itu indah.. Semua binatang di hutan senang dengannya.. dia menjadi penolong dengan tubuhnya yang kecil.” (menangis) aku ingin di ceritakan lagi tentang burung nuri itu bu…
Nuri                     :  (memeluk Tini) Kau memang anak yang pintar Tini…. (menahan tangis)
                               Ada yang ingin ibu ceritakan kepadamu… cerita yang sebenar-benarnya.. kau sudah saatnya untuk tahu… Kalau ibu adalah seorang…
Tini                      :  Aku tahu siapa ibu… saat aku mencari ibu kesini aku tahu semua cerita tentang ibu… aku tidak peduli… aku hanya tahu ibu orang yang baik denganku… aku hanya akan menjadi anak gelandangan yang bodoh tanpa bertemu denganmu…..
Nuri                     :  (tak kuasa menangis)
Tini                      :  “Namun, di saat tubuh kecilnya ingin menolong kesedihan hutannya yang terbakar… dia juga ikut hangus di dalamnya.. Lalu, sang dewa merasa iba dengan ketulusan si burug nuri dan menghentikan kesedihan itu.” (menangis)
Nuri                     :  Kau harus tetap menjadi anak yang pintar… Ibu akan menemuimu lagi…
Tini                      : Ibu tidak boleh kemana-mana… ibu tidak boleh pergi!!!
Nuri                     :  Terimakasih bi Ijah..
                               Ujang.. kau harus menjaga Tini dengan baik..
                               Ayo pak… (meninggalkan)
Tini                      : Tidak.. Ibu tidak poleh pergi….(mengamuk)
Bi Ijah                 :  Ibu pergi sebentar saja Tini…(menangis)
Tini                      :  Ibuuuuuuu (berteriak)

SUASANA MENGHARU. LAMPU PERLAHAN REDUP.

BLACK OUT.
ENDING.
                                                                                                            (Banjarmasin, 30/11/17)

Dibalik Pintu (Monolog)


MONOLOG DI BALIK PINTU
Karya: Ahmad Yamani

PANGGUNG MENGGAMBARKAN SUASANA PENUH DENGAN PERNAK-PERNIK PERAYAAN SEBUAH ACARA.  TERDAPAT BEBERAPA FOTO TERGANTUNG DAN LILIN-LILIN YANG MENYALA. WAKTU MENUNJUKKAN MALAM HARI DENGAN IRINGAN MUSIK YANG ROMANTIS. SEORANG WANITA PARUH BAYA TERLIHAT SEDANG DUDUK DI KURSI MENGHADAP MEJA YANG PENUH DENGAN KUE, LILIN-LILIN DAN SATU FOTO DENGAN FIGURA. DI SEBELAHNYA TERDAPAT KURSI KOSONG SALING BERHADAPAN DENGAN WANITA PARUH BAYA TERSEBUT. TIBA-TIBA TERDENGAR BUNYI ALARM HINGGA MENGEJUTKAN SOSOK WANITA YANG SEDANG TERTIDUR.

Astaga…… bodohnya aku jadi sampai ketiduran. Bagaimana jika dia datang dan aku masih saja ketiduran. Bisa-bisa acara ini gagal total. Aku tidak mungkin melewatkan momen bahagia ini. (WANITA ITU MENYALAKAN LILIN YANG SUDAH PADAM DAN MEMERIKSA KEMBALI SELURUH RUANGAN). Aduh….. Kenapa jadi berantakan seperti ini..... Ini pasti ulah sikucing nakal itu !!!! Awas kau yaa… Jatah makan mu akan dikurangi selama satu minggu!! (BERTERIAK) Seenaknya saja menghancurkan sesuatu yang sudah kupersiapkan sejak lama. (WANITA ITU MELIHAT CERMIN DAN MENGAMATI DIRINYA). Aduuuh…..ini juga kenapa jadi berantakan seperti ini… Dasar wanita tua!!! (TERINGAT SESUATU) Menjadi tua juga membuatku lupa  bagaimana caranya berdandan (MENDENGUS KESAL) Ahhhh….. Tidak…. Tidak akan ku biarkan wajah tua ini merusak kebahagiaan malam ini… Aku harus berdandan!!! (MENGOBRAK-ABRIK PAKAIANNYA DALAM LEMARI) Ah…..Tidak…. ini terlalu kentat. (MENGAMBIL LAGI BAJU YANG LAIN) Ahhh… Ini baguss.. tapi malah terlalu longgar. (MENGAMBIL LAGI BAJU YANG LAIN). Yang ini terlalu jadul…Bisa-bisa dia tertawa melihatku seperti ini “Inikan sudah jaman modern, bukan jamannya Elvy Sukaesih lagi” (MENDENGUS KESAL). Apakah selalu sesulit ini bagi wanita tua sepertiku untuk tampil cantik ?

(SETELAH SELESAI DENGAN PAKAIANNYA WANITA TADI DUDUK DI KURSI MAKE-UP NYA. MATANYA MEMANDANGI KERIPUT DIWAJAHNYA SAMBIL MENGELUHKAN USIANYA YANG SUDAH TUA).

Lihatlah wajah ini !!! Begitu kendor… entah sudah berapa lama tak diurus… (TANGANNYA MERABA-RABA MENGAMBIL DAN MENGUSAP-USAP WAJAHNYA).
Benda-benda ini ternyata lebih sulit digunakan dibandingkan bumbu-bumbu yang ada di dapur. Jika bukan karena hari spesialnya akan kubuang saja kalian ke tong sampah!!!

(SOSOK WANITA DUDUK KEMBALI DI KURSINYA MEMANDANGI JAM DAN MELIRIK PINTU DI DEPANNYA. MENUNGGU SESEORANG DATANG DI BALIK PINTU).

Hari ini… tepat pada tanggal 27 Maret kebahagiaan itu lahir. Dari seluruh waktu dia datang membawa segala harapan untuk hari-hari esok. Tidak ada hari yang lebih indah ketika seorang wanita dikaruniai seorang anak. Yang seketika menjadikanku seorang ibu. Juga tidak ada kebahagiaan lain dari seorang ibu ketika melihat kebahagiaan diwajah anaknya. Berpuluh-puluh tahun aku menjadi seorang ibu melihat ia menjadi seseorang yang dewasa dan begitu hebat. Di balik pintu itu ia akan datang dengan setumpuk kisahnya. Dan di tempat ini juga aku akan mendengarkan ia bercerita panjang lebar tentang senang dan sedih perjalanannya. Di balik pintu itu, adalah hadiah bagi wanita tua ini dan juga akan kuberikan hadiah seluruh kasih sayangku padanya setelah lelah mengukir kisah-kisah perjalanan yang hebat. Sebelum akhirnya kepadanya bersinggah wanita yang akan menggantikan pundakku.

(TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA KETUKAN PINTU)

Oh Tuhan.. dia datang (TERGUGU-GUGU) tunggu sebentar (BERTERIAK) Ya Tuhan, tiba-tiba sekarang aku menjadi gugup. Kaki terasa lemas tak bisa kubendung lagi rasa bahagiaku. Seperti rasanya kau kirimkan ia pertama kali untukku. (TERDENGAR LAGI KETUKAN PINTU) Tunggu…. Sebentar… (BERGEGAS, SESEKALI MELIHAT KECERMIN MEMASTIKAN DIRI MENGATUR NAFASNYA YANG TERSENGAL KEMUDIAN MEMBUKA PINTU) Siapa kau? Maaf.. aku sedang tidak menerima tamu malam ini.. kalau ada keperluan bisa datang besok saja!! Sekali lagi saya minta maaf dan tolong… hari ini saya ingin merayakan hari yang istimewa bagi saya dan anak saya jadi untuk hari ini saja saya tidak ingin diganggu!!! Sudah kukatakan aku tidak menerima tamu!!! (MEMBANTING PINTU) Dasar tidak ada kerjaan… Malam-malam begini seenaknya saja mengetuk rumah orang. (PERASAANNYA BEGITU KESAL. SESEKALI MELIRIK JARUM JAM. TANGANNYA SESEKALI MEMEGANGI HANDPHONE BERNIAT UNTUK MENENELPON NAMUN SELALU GAGAL)

Dimana sekarang kau nak?? Aku tidak sabar ingin mendengar cerita-cerita hebatmu… Kau memang anak yang mengagumkan… (MATANYA MENERAWANG JAUH KE MASA SILAM) Seperti rasanya baru kemarin kau merengek meminta susu (TERTAWA KECIL) Apa kau ingat ketika waktu itu kau berlari memelukku… padahal baru ibu tinggal beberapa saat saja…Kau tahu setiap aku sendiri, aku selalu mengingatnya… agar aku tidak merasa kesepian… rasanya selalu ada kau di sini... oh iyaa… betapa menggemaskannya dulu waktu kau menangis hanya karena luka yang sangat kecil... (DI MATANYA TERLIHAT KESEDIHAN YANG DALAM) Kau pasti jadi anak yang tangguh sekarang. Aku mendengar orang-orang menceritakan tentangmu… di koran-koran aku membaca namamu disebut-sebut… kau seperti puisi-puisi yang menggetarkan seluruh antero negeri ini… (BERLAGAK MEMPERAGAKAN SEORANG YANG SEDANG BERPIDATO) “Kita adalah pemuda-pemudi yang menuntut keadilan!!! Kesejahteraan harus dirasakan oleh seluruh rakyat!!! Kami akan selalu ada dan terus mengawasi kalian” (SEMAKIN BERSEMANGAT) Aduuhh… dasar encok kurang ajar!!! Orang-orang pasti mengagumimu nak dan aku lebih sangat beruntung memiliki anak sepertimu (MEMELUK FOTO DI TANGANNYA)

(TERDIAM SEJENAK. PANDANGANNYA DALAM MENATAP FOTO DI TANGANNYA)

Kau persis seperti ayahmu.. begitu pemberani. Ketika ia menceritakan cerita hebatnya, ibu selalu terpesona padanya. Tidak tahu mengapa ibu seakan-akan tidak pernah bosan mendengarnya. Kau tau? Jika ayahmu malas untuk menceritakannya ibu pasti akan merajuk sekali. (MALU-MALU) Bukan ibumu jika aku tidak bisa meluluhkan hatinya… hahaha (TERASA KESEDIHAN DI DALAM HATINYA) Aduuuhh… Mengapa juga aku jadi ngelantur seperti ini.. Sudahlah, ini bukan waktunya untuk mengenang cerita-cerita tentangnya. Tidak akan kubiarkan kesedihan itu mengganggu malam ini. Hanya ceritamu malam ini yang pasti akan mengalahkan ceritanya… (TERSENYUM) Ini pasti akan jadi malam yang sangat indah dalam hidupku sebelum aku nanti menemui ayahmu.. Dia pasti akan sangat senang aku menceritakannya… (TERLIHAT WAJAHNYA MULAI MENGANTUK HINGGA PERLAHAN-LAHAN TERTIDUR)

(LALU TERDENGAR LAGI SUARA KETUKAN PINTU)

Anakku? Apa itu kau nak? Ibu sudah lama menunggumu. Maaf ibu ketiduran. Tunggu sebentar. Aku yakin kau akan datang malam ini menemui ibu… (MEMBUKA PINTU NAMUN LAGI-LAGI WAJAHNYA TERLIHAT SEDIH) Kau lagi… Aku sudah bilang tidak bisa menerima tamu!!! Kau tidak tahu ini sudah larut malam? (MENUTUP PINTU PANDANGANNYA MENYAPU KE SELURUH RUANGAN) Hari sudah larut malam.. Apa hari ini kau begitu lelah nak? (MENGANGKAT HANDPHONENYA NAMUN LANGSUNG MENGURUNGKAN NIATNYA) Tidak apa-apa jika kau memang tidak bisa datang lagi malam ini. Ibu sangat mengerti dan selalu mengerti… (TAMPAK SEDIH DI WAJAHNYA) Aku tidak boleh mengacaukan fikiranku… mungkin saja dia memang benar-benar tidak bisa ke sini dan besok baru bisa pulang… yaa mungkin besok… Siapa juga yang peduli dengan hari perayaan ini… Kapanpun dia datang adalah hari yang paling istimewa bagiku. (TERSENYUM) Jika saja kau di sini sekarang, sebenarnya aku ingin mengatakan satu hal padamu nak… Tak ada lagi yang kuinginkan saat ini selain memandang wajahmu. Begitu gemetar rasanya kakiku melangkah.. Di malam-malam seperti ini ingin sekali aku berjumpa dengan ayahmu… (MENANGIS) Tapi sialnya matahari selalu saja terbit membangunkan tidurku. (TERDIAM SEJENAK)

Setiap manusia mampu bertahan hanya karena harapan yang kuat di hatinya… begitupula aku… kau menjadikan harapanku tumbuh dan begitu kuat. Beribu doa setiap malam semoga kau dapat pulang ke rumahmu dan kita saling bertemu. Di setiap ketukan pintu itu hatiku selalu terasa gugup mengira itu adalah kau. Apalagi yang dapat kuharapkan di setiap sunyi dan sepi rumah ini selain kedatanganmu mengisi kursi yang kosong ini. Sembari kita bercakap tentang keluh kesahmu, tentang harapan-harapanmu yang membuatku bersyukur menjadi seorang ibu. (TERSENYUM SEDIH)

(LAGI-LAGI TERDENGAR KETUKAN PINTU YANG SEMAKIN GADUH)

Sudah kubilang aku sedang tidak menerima tamu!!! (MEMBENTAK) Kau masih tidak mengerti hah? Aku mau istirahat!!!

(BUNYI HANDPHONE NYA BERDERING)

            Haloo…. Iya benar saya ibunya… Apa kau temannya? Apa dia sedang sibuk sekarang? Kalau dia masih sibuk tolong sampaikan padanya tidak apa-apa kalau dia tidak datang malam ini… dia bisa pulang besok-besok saja kalau sudah tidak ada kesibukan… tolong sampaikan padanya… aku takut membuatnya memikirkanku dan mengganggu kesibukannya… Sampaikan juga padanya aku sedang baik-baik saja di sini… tidak perlu di cemaskan… Haloo.. Haloo… aduh kenapa terputus?? (HANDPHONENYA BERBUNYI LAGI) iyaa haloo… maaf jaringan di sini agak kacau.. apa kau bisa sampaikan pesan ku tadi padanya? Iya …. Dimana dia sekarang?? (TIBA-TIBA TERKEJUT) maksudnya apa? Maaf mungkin anda salah sambung… mungkin anda salah orang… (MENUTUP KEMBALI HANDPHONENYA)
            Tidak mungkin… dia pasti pulang malam ini… Anakku pasti pulang ke rumah… dia hanya terlambat saja… (MATANYA BERKACA-KACA) Sudah terlalu banyak kekacauan hari ini padaku… (HANDPHONE NYA BERBUNYI LAGI) Sudah ku katakan anda salah sambung… maaf.. (INGIN MENUTUPNYA LAGI NAMUN TIBA-TIBA IA TERKEJUT) Suri??? Anakku??? Apa itu benar-benar kau nak?? Kau sedang di mana?? Kau baik-baik saja??? Ibu mencemaskanmu nak… tadi ada orang yang salah sambung menakut-nakuti ibu… Dimana kau nak? Iyaaa… ibu akan diam … ibu sekarang bisa mendengarkanmu…. (LAMA IA TERDIAM. MATANYA TAK MAMPU MENAHAN TANGIS. PERASAANNYA TIDAK KARUAN) Kantor polisi??? Kau pasti hanya bercanda kan?? Ibu sangat mengenalmu… Kau anak yang baik.. ibu selalu mengajarkanmu menjadi orang baik… mana mungkin…. Mana mungkin… kau…. (MENANGIS) Kenapa??? Ya Tuhaaann…. Mengapa jadi begini nak… narkoba???... ibu tidak pernah mengajarkanmu (TERPUTUS PUTUS BICARANYA) Kau anak ibu yang baik.. bukan anak seperti itu…. (MENANGIS LAGI) Kenapa kau baru saja mengabari ibu??

(TERSENTAK MENDENGAR SUARA ANAKNYA LALU BERGEGAS MEMBUKA PINTU RUMAHNYA)
           
Apa benar… apa benar anakku… (MENANGIS)
Ya Tuhan…

(BLACK OUT)

KOOR :


Kau terus saja berjalan
Sedang aku tergopoh-gopoh mengejarmu
Tegak kau berdiri menghadap langit
Di balik pintu, udara semakin dingin
Membekukan air mata
Apalagi yang kuharapkan di sunyi sepi
Selain menunggu korsi-kursi yang kosong terisi
Mengenang tangismu.
Mengenang keluhmu.
Mengenang harapan-harapan sedari lugu
Lilin-lilin mulai redup
Aku tahu hidup tidaklah mudah bagimu, sayang.
Tapi aku di sini mendengarmu.
Saat kau hilang arah jalan
Menangislah di pundakku
Pulanglah ke rumahmu.
Dunia tidak untuk kita menetap
Di sana..
Di atas harapan-harapan bulan
Sejuk rumah kita bersama
Ketahuilah, sayang.
Kemanapun kau berjalan
Tujulah hati kecilmu
Seribu gumparan api dapatlah padam
Segunung bebatuan es juga dapatlah runtuh
Maka percayalah.
Aku selalu menjadi rumah bagimu.




           

Hadiah


HADIAH
(FAISAL REFKI – 16/06/2018)


SINOPSIS :
"Saya tidak bisa membayangkan luka, rasa sakit, terima kasih karena telah memaafkan”

TOHOH :
ABDUL : Laki-laki – 66 tahun – Muslim
TREY : Laki-laki – 28 tahun – Non Muslim

SETTING TEMPAT DAN WAKTU :
Pengadilan – Masa Kini






DIMEJA PENGADILAN, TREY YANG MENJADI TERSANGKA DUDUK BERHADAPAN DENGAN ABDUL YANG MERUPAKAN AYAH DARI KORBAN. SUASANA HENING SEKETIKA ALI MENYAMPAIKAN SESUATU KEPADA TREY.

Abdul : (dengan tenang) Anakku, keponakanku, aku memaafkanmu, mewakili Salahuddin dan ibunya. Keponakanku tersayang, Trey, aku tak menyalahkanmu atas kesalahan yang telah kamu lakukan. Aku tak marah karena kamu telah menyakiti anakku. Aku marah kepada Iblis, aku menyalahkan Iblis, yang menuntun dan memimpinmu ke arah yang salah sehingga kamu melakukan kejahatan itu. Aku merasa sedih atas orangtuamu. Mereka membesarkanmu dan menginginkanmu untuk berhasil. Kesuksesanmu adalah kesuksesan mereka. Bahagiamu adalah bahagia mereka. Sekarang mereka harus menangis atas kejahatan yang telah kamu lakukan. Memaafkan adalah hadiah atau sedekah terbesar dalam Islam. Aku harus memasrahkan diriku untuk memaafkan seseorang yang telah bersalah kepada keluargaku.
Trey    : (hanya bisa terdiam sambil menahan tangis)
Abdul : (datang menghampiri Trey kemudian memeluknya)


SELESAI

*diangkat dari kisah nyata Abdul-Munim Sombat Jitmoud dan Trey Alexander Relford. Kentucky USA, 7 November 2017.
Sumber :